Gagal Ginjal Kronik

Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip kacang. Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Manusia memiliki sepasang ginjal yang terletak di belakang perut atau abdomen. Ginjal ini terletak di kanan dan kiri tulang belakang, di bawah hati dan limpa. Di bagian atas (superior) ginjal terdapat kelenjar adrenal (juga disebut kelenjar suprarenal).

Pengertian Gagal Ginjal Kronik

Gagal Ginjal Kronis (menahun) atau penyakit ginjal tahap akhir adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan irreversible (tidak dapat kembali). Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Bambang 2010). End stage renal disease merupakan gagal ginjal terminal yang akan membawa kematian jika tidak dilakukan terapi hemodialisis atau transplantasi ginjal (Hartono 2006).

Etiologi

Penyebab gagal ginjal kronik cukup banyak tetapi untuk keperluan klinis dapat dibagi dalam 2 kelompok (Bambang 2010):

1. Penyakit parenkim ginjal

  • Penyakit ginjal primer : Glomerulonefritis, Mielonefritis, Ginjal polikistik, TBC ginjal
  • Penyakit ginjal sekunder : Nefritis lupus, Nefropati, Amilordosis ginjal, Poliarteritis nodasa, Sclerosis sistemik progresif, Gout, Diabetes Mellitus

2. Penyakit ginjal obstruktif : Pembesaran prostat, Batu saluran kemih, Refluks ureter.

    Patofisiologi

    Gagal ginjal kronik secara kasar dapat dikategorikan sebagai cadangan ginjal yang berkurang, insufisiensi ginjal, atau gagal ginjal (stadium akhir penyakit ginjal). Awalnya sebagian jaringan kehilangan fungsi ginjal, ada beberapa kelainan karena jaringan sisa ,meningkatkan kinerjanya sebagai adaptasi fungsional ginjal. Penurunan fungsi ginjal mengganggu kemampuan ginjal untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Gangguan kemampuan berkonsentrasi pada penurunan urin tahap awal dan diikuti penurunan kemampuan untuk mengeluarkan fosfat, asam, dan kalium (McMillan 2007).

    Perjalanan klinis

    Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi 3 stadium

    1. Stadium I

      Penurunan cadangan ginjal (faal ginjal antar 40 % – 75 %). Tahap inilah yang paling ringan, dimana faal ginjal masih baik. Pada tahap ini penderita ini belum merasasakan gejala gejala dan pemeriksaan laboratorium faal ginjal masih dalam masih dalam batas normal. Selama tahap ini kreatinin serum dan kadar BUN (Blood Urea Nitrogen) dalam batas normal dan penderita asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan memberikan beban kerja yang berat, sepersti tes pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan test GFR yang teliti (Bambang 2010).

      2. Stadium II

        Insufiensi ginjal (faal ginjal antar 20 % – 50 %). Pada stadium ini pengobatan harus cepat dalam hal mengatasi kekurangan cairan, kekurangan garam, gangguan jantung dan pencegahan pemberian obat obatan yang bersifat menggnggu faal ginjal. Pada stadium ini kadar kreatinin serum mulai meningkat melebihi kadar normal.

        Biasanya ditemukan anemia pada gagal ginjal dengan faal ginjal diantara 5 % – 25 % . Faal ginjal jelas sangat menurun dan timbul gejala gejala kekurangan darah, tekanan darah akan naik, , aktifitas penderita mulai terganggu.

        3. Stadium III

          Uremi gagal ginjal (faal ginjal kurang dari 10 %). Gejala-gejala yang timbul antara lain mual, muntah, nafsu makan berkurang, sesak nafas, pusing, sakit kepala, air kemih berkurang, kurang tidur, kejang-kejang dan akhirnya terjadi penurunan kesadaran sampai koma. Pada stadium akhir gagal ginjal, penderita mulai merasakan gejala yang cukup parah karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis caiaran dan elektrolit dalam tubuh. Penderita biasanya menjadi oliguri (pengeluaran kemih) kurang. Pada stadium ini, penderita pasti akan meninggal kecuali ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau hemodialisis.

          Diet

          • Tujuan diet penyakit gagal ginjal kronik adalah (Almatsier 2008):
            • Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal dengan memperhitungkan sisa fungsi ginjal, agar tidak memberatkan kerja ginjal
            • Mencegah dan menurunkan kadar ureum darah yang tinggi
            • Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit
            • Mencegah atau mengurangi progresivitas gagal ginjal, dengan memperlambat turunnya laju filtrasi glomerulus
            • Syarat diet penyakit gagal ginjal kronik adalah (Almatsier 2008):
              • Energi cukup (35 Kal/kg BB)
              • Protein rendah (0.6-0.75 g/kg BB)
              • Lemak cukup (20-30% dari Energi total)
              • Karbohidrat cukup (Sisa dari kebutuhan energi)
              • Natrium rendah (1-3 g) bila ada hipertensi, edema, asites, oliguria, atau anuria
              • Kalium dibatasi (40-70 mEq) bila ada hiperkalemia, oliguria, atau anuria
              • Cairan dibatasi (+ 500 ml)
              • Vitamin cukup
            • Bahan makanan yang dianjurkan (Kresnawan 2008):
          • Sumber Karbohidrat: nasi, bihun, mie, makaroni, jagung, roti, kwethiau, kentang, tepung-tepungan, madu, sirup, permen, dan gula.
          • Sumber Protein Hewani: telur, susu, daging, ikan, ayam.

          Bahan Makanan Pengganti Protein Hewani : Hasil olahan kacang kedele yaitu tempe, tahu, susu kacang kedele, dapat dipakai sebagai pengganti protein hewani untuk pasien yang menyukai sebagai variasi menu atau untuk pasien vegetarian asalkan kebutuhan protein tetap diperhitungkan.

          • Sumber Lemak: minyak kelapa, minyak jagung, minyak kedele, margarine rendah garam, mentega.
          • Sumber Vitamin dan Mineral : Semua sayur dan buah, kecuali jika pasien mengalami hipekalemi perlu menghindari buah dan sayur tinggi kalium dan perlu pengelolaan khusus yaitu dengan cara merendam sayur dan buah dalam air hangat selama 2 jam, setelah itu air rendaman dibuang, sayur/buah dicuci kembali dengan air yang mengalir dan untuk buah dapat dimasak menjadi stup buah/coktail buah.
          • Bahan makanan yang dihindari (Kresnawan 2008):
          • Sumber Vitamin dan Mineral
          • Hindari sayur dan buah tinggi kalium jika pasien mengalami hiperkalemi. Bahan makanan tinggi kalium diantaranya adalah bayam, gambas, daun singkong, leci, daun pepaya, kelapa muda, pisang, durian, dan nangka.

          Hindari/batasi makanan tinggi natrium jika pasien hipertensi, udema dan asites. Bahan makanan tinggi natrium diantaranya adalah garam, vetsin, penyedap rasa/kaldu kering, makanan yang diawetkan, dikalengkan dan diasinkan.

          TANYA JAWAB

          Pertanyaan:

          1. Apakah penderita gagal ginjal kronik boleh mengonsumsi pangan sumber protein?
          2. Apakah cara terbaik dalam menangani pasien dengan gagal ginjal kronik stadium III?

          Jawaban:

          1. Penderita gagal ginjal kronik diperbolehkan mengonsumsi sumber protein. Sumber protein yang dianjurkan ialah protein yang berasal dari hewan (protein hewan) karena kemampuan tubuh untuk mencerna protein yang berasal dari hewan lebih mudah. Mengonsumsi protein yang berasal dari tumbuhan (protein nabati) tidak dianjurkan bagi penderita penyakit ini karena protein nabati sedikit lebih sulit dicerna disbanding protein hewani sehingga akan semakin memberatkan fungsi ginjal dan memperparah keadaan gagal ginjal.
          2. Ada dua cara untuk menangani pasien gagal ginjal kronik yaitu hemodialisis (cuci darah) dan transplantasi (cangkok) ginjal. Cara terbaik dalam menangani gagal ginjal kronik stadium III ialah dengan transplantasi (cangkok) ginjal. Pada penderita gagal ginjal kronik stadium III, dapat dikatakan ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi sehingga zat-zat sisa metabolisme yang seharusnya dibuang melalui urin masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh tubuh. Oleh karena itu, pasien tersebut butuh menjalani proses pembersihan darah secara teratur. Proses pencucian darah membutuhkan biaya yang mahal sehingga disarankan mencari pendonor ginjal yang memiliki kecocokan ginjal dengan pasien agar pasien tidak perlu melakukan proses pencucian darah secara terus menerus.
          Posted in Diet | Leave a comment